Selasa, 29 Maret 2011

Tim Terpadu P Raya Terbentuk

Calo Penyebab Banyaknya Sengketa Lahan



PALANGKA RAYA_penyaksi.com



Pemerintah kota (pemko) Palangka Raya akhirnya membentuk tim terpadu untuk menanggulangi sengketa lahan yang semakin marak terjadi. Tim inilah yang nantinya akan bertugas untuk menyelesaikannya.



Walikota Palangka Raya, HM Riban Satia, usai rapat unsur muspida, Senin (28/3), mengatakan, tim terpadu telah diintruksikan untuk menginventaris berbagai permasalahan sengketa lahan maupun tumpang tindih lahan yang belum diajukan ke pengadilan, baik perdata maupun pidana.



Dalam menyelesaikan permasalahan itu tim ini juga diminta mengedepankan musyawarah dan pendekatan personal terhadap semua pihak. Sehingga keputusan atau solusi yang diambil tak menimbulkan permasalahan baru.



“Kita tidak ingin masalah sengketa ini berlarut-larut dan menimbulkan konflik antar masyarakat. Makanya tim ini harus hati-hati bekerja serta netral dalam menyelesaikan sengketa,” kata Walikota Palangka Raya ini.



Riban mengemukakan, masalah tumpang tindih lahan ataupun surat kepemilikan tanah (SKT) ganda hampir terjadi di semua kecamatan maupun kelurahan di Palangka Raya. Sehingga perlu ditangani dan prioritas perhatian dari pemko. “Masyarakat sudah banyak yang mengeluh ke pemko, makanya harus diselesaikan,” ujarnya.



Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Palangka Raya, Mangapul Pangabean mengatakan, pihaknya saat ini masih memperoses sekitar 25 kasus tumpang tindih lahan yang sebagian diantaranya adalah laporan tumpang tindih lahan yang telah bersertifikat.



“Ada yang sudah disampaikan ke pengadilan, dan ada pula yang masih diselesaikan secara kekeluargaan. Makanya kita berharap tim terpadu ini bisa menyelesaikan berbagai sengketa lahan itu,” kata Mangapul.



Rapat membahas tumpang tindih lahan ini juga di hadiri Kapolresta Palangka Raya AKBP Andreas Wayan, Ketua DPRD Kota Sigit K Yunianto, Dandim 1016 Palangka Raya Letkol Patar S Panggabean dan unsur muspida lainnya, bertempat di ruang pertemuan Kecamatan Pahandut.



Kapolres Palangka Raya, mengatakan, semakin maraknya sengketa lahan di daerah diduga karena ada calo yang sengaja melakukan jual beli lahan tanpa prosedur dan peraturan perundang-undangan.



"Calo ini yang harus di cari. Makanya kita sangat mengharapkan tim terpadu menemukan orangnya bersama bukti-buktinya. Setelah itu Polres akan memproses secara hukum yang berlaku,” tegas Andreas Wayan.
Teruskan Sob...

Sarana Kelurahan Tak Ada Perbaikan

PALANGKA RAYA_penyaksi.com



Walikota Palangka Raya HM Riban Satia mengaku prihatin melihat sarana kelurahan yang sudah puluhan tahun tak ada perbaikan. Bahkan, kantor tempat dulunya Walikota bertugas sebagai staff hingga saat ini tak akan perubahan sama sekali.



“Kondisinya sarana infrastruktur di kelurahan sejak puluhan tahun tak ada renovasi sama sekali, khususnya di kelurahan Panjehang, Palangka, dan Pahandut, dan kelurahan lainnya” kata Riban, Senin (28/3), di ruang pertemuan Kecamatan Pahandut.



Walikota mengemukakan, minimnya sarana infrastrutur ini telah disampaikan ke seluruh Camat maupun Kepala Dinas Pekerjaan umum (DPU) Palangka Raya agar segera memperhatikan dan menyusun rancangan dan dananya.



Tidak hanya itu, perencanaan di tahun 2012 juga perlu di perbaiki sarana jalan yang memprihatinkan. Sebab, saat musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) kelurahan masih ada daerah



“Gimana mau betah pegawai kita kalau sarana kantor saja kondisinya rusak dan jalannya becek, Tolong sekcam rakumpit dan dinas pu, pada tahun 2012 agar hal ini dapat diperhatikan,”kata Riban sembari melihat Camat dan Kepala DPU Kota.



Walikota Palangka Raya juga merasa heran, kenapa sarana bangku ataupun kursi di sejumlah kelurahan tidak ada pengadaan baru hampir semua barang lama dan kondisinya tak banyak yang berobah.



“Saya tau kondisi di kelurahan seperti apa, saya lama bertugas di kelurahan. Makanya saya sangat sedih kalau lihat fasilitas di kelurahan buruk semua,” pungkasnya.

Teruskan Sob...

Senin, 28 Maret 2011

Pemko Tak Tegas Larang Sarang Walet


Oleh, penyaksi.com



PALANGKA RAYA-Anggota DPRD Kota Palangka Raya menilai Pemerintah kota (pemko) tidak tegas melarang pembangunan sarang burung walet di daerah ini. Pasalnya, surat edaran yang di keluarkan Walikota Palangka Raya HM Riban Satia bersifat kontradiksi atau bertentangan dan tidak melarang sama sekali.



Sekretaris Komisi III DPRD Palangka Raya Anggoro Dian Purnomo, Sabtu (26/3), mengatakan, di dalam surat edaran walikota ada mencantumkan dilarang membangun sarang burung walet tanpa seizin pemko.



Seharusnya di surat edaran tersebut pemko dengan tegas melarang bangunan sarang walet sampai ada peraturan daerah (perda), bukan melarang tanpa ada izin dari pemko. Sebab pernyataan tersebut jelas memberi ruang bagi pengusaha maupun oknum PNS bermain atau melakukan tindakan yang merugikan daerah ini.



“Kalau memang di larang ya larang saja, jangan buat pernyataan yang kontradiksi,” kata Anggoro.



Menurut Sekretaris Komisi III ini, meski telah ada surat edaran tersebut pembangunan sarang burung walet masih berjalan, bahkan semakin marak bertambah di beberapa kawasan pinggiran Kota Palangka Raya, dan terkesan tak terkontrol.



Apalagi perda mengenai izin pembangunan sarang burung walet masih digodok dan belum bisa dipergunakan untuk dijadikan acuan. Jika pemko tak tegas, permasalahan sarang walet ini dikhawatirkan banyak pertokoan akan di berubah fungsi.



“Hendak jadi apa ibukota provinsi ini kalau semua bangunannya sarang walet. Tak ada lagi ‘Kota Cantik’, tapi kota walet. Memang kita mau seperti itu,” kata politisi partai Gerindra ini.



Anggoro berharap Walikota bisa kembali mengeluarkan surat edaran dengan isi yang lebih tegas bahwa pembangunan sarang burung walet sebelum ada Perda yang mengaturnya dilarang. Sehingga, kalau ada masyarakat yang ternyata masih membangun sarang burung walet bisa segera ditertibkan. “Satu hal lagi, himbauan Walikota sebenarnya tak bisa ada sebelum perda yang mengaturnya ada,” pungkas Anggoro.
(rm-44) Teruskan Sob...

Bayi Imut dan Periang Di Gorok Ibu Kandungnya


PALANGKA RAYA-



Ayah Shock, Kakak Tiri Tak Menyangka Adik Mati Mengenaskan



Oleh, penyaksi.com



Sore itu mendung, hujan rintik-rintik, Maswati alias wati dan Muslim putra tunggalnya, hanya berdua berada di rumah. Sedangkan Sahrani, suami dan bapak bayi itu berada di tempat kerjanya.



Entah ada angin apa, Sahrani hari itu pulang cepat, dan langsung menanyakan kondisi anaknya ke Wati istri keduanya. ‘Sudah ku bunuh. Itu di sungai samping rumah,’ Jawab istrinya. Sahrani langsung berteriak minta tolong mendengar jawaban tersebut.



“Ah….teriak Kaimansyah dari sebelah, aku langsung ae lari keluar rumah melihat apa yang terjadi. Pas keluar, saya lihat Sahrani melompat ke sungai di belakang rumahnya,” kata Samatriadi, tetangga sebelah rumah Sahrani, kemarin sore.



Melompatnya Sahrani ke sungai samping rumahnya bukan tanpa alasan, ternyata pria yang berumur 60 tahun ini mengambil mayat anaknya yang di gorok dan di buang oleh ibu kandungnya.



“Saya lihat Sahrani mengangkat tubuh Muslim dari sungai, kepalanya terpisah dari badannya. Aduh, ngeri dan miris hati melihatnya mas,” kata Samatriadi yang berprofesi sebagai pedangan di pasar besar ini.



Setelah mayat bayi malang itu diangkat, sang ayah kemudian meletakkan di dalam depan rumah belakang lalu menutup seluruh tubuh anaknya dengan seuntai kain warna merah ketuaan yang biasa digunakan untuk menggendong.



Kabar penggorokan itu tersiar begitu cepat, tak sampai lima menit setelah Muslim diangkat dari sungai, puluhan warga yang tinggal di gang Sari jalan Murjani, itu mendatangi tempat kejadian.



“Saya kalut saat itu, jadi tak ada kepikiran melapor ke polisi. Warga juga banyak yang berkumpul. Tidak tahu siapa yang melapor, tiba-tiba saja polisi datang,” ujar Samatriadi.



Penggorokan itu terjadi Rabu (23/3) kemarin, sekitar pukul 15.00 wib, di barak yang tak begitu luas, lantai dan dinding dari papan, beratapkan sirap. Lampu penerangan barak itu hanya ada dua bola lampu, di dalamnya beberapa kotak es yang biasa digunakan untuk menyimpan ikan.



Barak sangat sederhana itu berdiri di atas tanah yang penuh dengan air, tinggi kayu pundasinya sekitar dua meter, dan termasuk daerah aliran sungai kahayan. Sehingga kalau sungai kahayan sedang pasang, di bawah rumah itu akan digenangi air. Pada saat kejadian saja kedalaman air sekitar 50 centimeter.



Wati binti Amni merupakan istri kedua Sahrani. Usia suami istri ini terpaut cukup jauh, Wati 26 tahun semntara Sahrani 60 tahun. Keluarga ini baru karunia satu anak, bermana Muslim yang berumur sembilan bulan.



Dikalangan tetangga, Wati dikenal pemurung, jarang bicara, dan punya penyakit kejiwaan atau stres. Namun, walau perempuan ini terkadang stressnya datang warga mengakui kalau dirinya tak menimbulkan keributan atau kegaduhan.



Berdasarkan penuturan warga sekitar, Wati dan keluarganya tinggal di barak tersebut sekitar tiga tahun, dan hanya sekali berkelahi dengan tetangga sebelah rumahnya. Perkelahian itu disebabkan kesalahpahaman Wati saat menjemur ikan di depan rumahnya. Wati melihat ikan yang dijemurnya ada hilang dan menduga tetangganya mengambil. Padahal hilangnya ikan itu karena di bawa kucing.



“Wati langsung menjambak rambut tetangganya, dan berteriak minta ikannya di kembalikan. Itu aja, setelah itu tak pernah lagi ada keributan,” kata Acil pemilik warung yang juga tetangga Wati.



Pasca penggorokan itu, sontak keluarga ini menjadi bahan pembicaraan para tetangga. Sebab, pantauan Radar Sampit, Kamis (24/3), hampir di tiap warung yang ada di sepanjang gang Sari jalan Murjani, tampak kerumunan ibu-ibu sedang mengobrol dan ada membaca koran.



Mungkin mereka penasaran dengan kejadian yang sebenarnya. Karena, tak banyak warga yang tahu latar belakang dan seluk beluk kehidupan keluarga Wati dengan Sahrani. Warga hanya mengetahui kalau Wati istri kedua Sahrani, sedangkan istri pertamanya tak ada yang mengetahui siapa dan dimana.



“Penasaran aja, seperti apa kejadian yang sebenarnya. Informasinya simpang siur, makanya kami koran biar tau gimana kejadiannya,” ungkap seorang ibu yang tak mau menyebutkan namanya.



Siang harinya, Radar Sampit kembali mendatangi tempat penggorokan. Suasana barak itu cukup lengang, di dalam hanya ada dua orang, yakni Sahrani dan Palu, anak ke V dari istri pertamanya. Sahrani sedang tertidur, sedang Palu duduk menyandar ke dinding sembari memain-mainkan Hp nya.



“Bapak (Sahrani, rek) baru aja tidur. Dari malam tadi tidak ada tidur, hanya duduk, berzikir dan termunung. Ngomong aja ala kadarnya,” kata Palu, anak dari Martini, nama istri pertama Sahrani.



Palu mengungkapkan bahwa dirinya sampai saat ini belum mengetahui kejadian penggorokan yang sebenarnya. Sebab, setelah kejadian tersebut bapaknya tidak ada menceritakan sama sekali. “Mungkin bapak masih belum bisa terima,” katanya.



Walau Muslim bukan adik kandungnya, namun Palu sangat menyayangi dan selalu membawakan makanan maupun mainan ke adik tirinya itu. Karena Palu belum pernah merasakan enaknya punya adik.



“Pas Muslim lahir senang banget rasanya. Dendam dengan bapak hilang. Apalagi dia (muslim, rek) anak yang pintar dan lucu. Digendong siapa aja dia mau,” ungkap Palu sembari mengusap air matanya yang membasahi pipinya.



“Saya tak menyangka kalau adik saya itu matinya mengerikan,” ujarnya dengan suara serak menahan tangisnya. Pria berumur 19 tahun ini kemudian menarik nafas sangat dalam, “Ah..adikku” ucapnya.



Palu menlanjutkan, kalau mengingat perceraian bapak dengan ibu rasanya ingin marah, apalagi kondisi bapak yang sudah tua dan harus kerja keras. Tapi tak tahu harus marah kepada siapa karena memang bapak yang minta cerai.



Sejak perceraian itu bapaknya juga tidak pernah ke rumah istri pertamanya di jalan Kalimantan Palangka Raya hanya untuk melihat anak-anaknya. “Tak pernah bapak datang ke rumah, mana berani,” ungkap Palu.



Dari istri pertama, Sahrani dikaruniai lima orang dan semuanya sudah dewasa, bahkan ada yang telah berumah tangga. Anak pertama, ketiga dan kelima Sahrini tinggal sekitar Palangka Raya. Sedangkan, anak ke dua dan keempat bermukim di luar Palangka Raya.



“Malam tadi kakak ipar yang nemani bapak. Sekarang saya mas, sebenarnya saya harus kerja siang ini, tapi kasihan bapak sendiri kalau saya tinggal,” kata Palu.



Di tempat terpisah, Pjs Kasi Humas Polsek Pahandut, Bripka Ayandi T Bingan, Jumat (25/3), mengatakan, mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, Wati pelaku penggorokan sudah dipindah ke Rjs Kalawa Atei.



Pelaku di tempatkan di kamar nomor 2, tak jauh dari meja piket. Karena, menurut keterangan dokter Kalawa Atei, kondisi kejiwaan Wati tergolong kelas berat sehingga memerlukan pengawasan ekstra.



“Kita khawatir aja dia (wati, rek) membenturkan kepalanya ke dinding atau berbuat hal yang tak diinginkan. Bisa-bisa bunuh diri dia di ruang tahanan, mampus kita. Bagaimanapun perbuatan pelaku, tetap punya hak untuk dilindungi,” kata Bripka Ayandi ini.
Teruskan Sob...