Minggu, 23 Oktober 2011

Sewa Stand Mahal, UMKM Tersisih


Palangka Raya Fair Mayoritas di Ikuti Pemerintah



PALANGKA RAYA, Penyaksi.com_ Mahalnya harga sewa stand di event Palangka Raya membuat usaha masyarakat kecil menengah (UMKM) tersisih karena tak mambu membayarnya. Dimana, panitia pelaksana mematok harga termurah untuk satu stand sekitar Rp5 juta selama kegiatan berlangsung.



Padahal, kegiatan yang digagas Pemerintah Provinsi Kalteng bersama Pemerintah Kota Palangka Raya, dengan menunjuk event organize tiga warna promosindo sebagai pelaksana, bertujuan untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan UMKM, di wilayah Kalteng.



“Kita menyediakan 45 stand. Untuk mengenai harga tidak etis lah menyebutkannya, karena kita (tiga warna promosindo, red) sudah menyebar brosur kepada para calon pengisi stand. Tapi, untuk stand yang termurah sekitar Rp5 juta lah,” ungkap Jayzee, staff informasi tiga warna promosindo, Sabtu (22/10), kepada Radar sampit.



Jayzee menambahkan, Palangka Raya fair yang dilaksanakan selama seminggu ini berbagai dinas di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalteng, DInas di Lingkungan Pemko Palangka Raya, dan pemerintah Kabupaten se Kalteng.



Selain itu, beberapa Kementerian Republik Indonesia, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan BUMD, serta UMKM yang di bina BUMN dan BUMD juga turut ikut di event ini. “ Kalau jumlah UMKM secara pribadi tidak begitu banyak,” tambah Jayzee.



Sementara itu, Ketua Kamar dagang (Kadin) Kalteng, Togoyo, mengemukakan, Event Palangka Raya fair ini sangat representative(berpotensi, red) untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan UMKM dari Kalteng, khususnya Palangka Raya. Hanya, mahanya harga sewa stand membuat keterlibatan UMKM sangat minim atau rendah.



Alhasil, mahalnya harga sewa tersebut membuat masyarakat yang bergerak di UMKM berpikir ulang memasarkannya. “Sebenarnya ini tempat strategis, karena ini event nasionla. Tapi itu tadi, sewanya relative mahal. Jadinya penghuni stand kebanyakan dari unsur pemerintah,” ucap Togoyo.



Togoyo mengemukakan, selain harga sewa mahal, hal lainnya juga dikarenakan kurangnya pemahaman para UMKM dalam memanfaatkan momentum, salah satunya melalui Palangak Raya fair ini. Karena dari upaya yang pernah dilakukan Kadin Kalteng di event nasional, produk-produk UMKM asal Kalteng selalu menjadi incaran masyarakat dari daerah lain, khususnya mandau, saluang belung, pasak bumi, dan produk yang benar-benar asli Kalteng.



“Produk kita (Kalteng, red) nomor lima di Indonesia yang paling diminati. Makanya, para masyarakat yang bergelut di UMKM harus dapat memanfaatkan momentum. Jangan pernah berhenti memasarkan produk-produknya. Daripada pergi ke Jakarta memasarkan produknya, bukankah lebih baik memanfaatkan event (palangka raya fair, red) ini, harganya lebih mudah dibandingkan harus ke Jakarta,” ujar Ketua Kadin ini.



Di tempat terpisah, Kepala Disperindakop Palangka Raya, Djuan, mengatakan, dari 45 stand yang ada, hanya 10 UMKM yang terlibat, itupun binaan BUMN dan BUMD, seperti Jasa Raharja, Jamsostek, dan lainnya.



Padahal, tujuan dilaksanakannya palangka raya fair ini untuk memperkenalkan produk-produk UMKM yang ada di daerah ini. Kemudian, para UMKM juga dapat belajar dengan UMKM dari daerah lain, khususnya tingkat nasional. “harapannya kegiatan ini dapat benar-benar dimanfaatkan,” ucap Djuan.



Palangka Raya fair yang dibuka, Sabtu (22/10) sore ini, langsung di buka Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, dan turut hadir Walikota Palangka Raya, Riban Satia, dan segenap Kepala Satuan Kerja Perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov Kalteng, maupun Pemko Palangka Raya.
Teruskan Sob...

Jumat, 01 Juli 2011

Dokter Membedah Perut Pasien Dua Kali Tanpa Seizin Keluarga





Menguak Kebobrokan RSUD Doris Silvanus



Dua belahan di perut, usus masih berhamburan di luar perut. Sang Dokter memanggil dan meminta keluarga pasien ke ruang operasi untuk melihat dan mendengarkan adanya kesalahan mendeteksi penyakit. Padahal operasi tak perlu dilakukan.



PALANGKA RAYA_Penyaksi.com



Sekitar pukul 15.00 wib, seorang ibu tua merasakan sakit yang luar biasa. Sekujur punggung serasa melepuh, perut seakan di tusuk jarum dan ingin muntah-muntah. Melihat itu, suami dan anak ibu tua itu, gusar dan bimbang. Antara di bawa ke rumah sakit umum daerah (RSUD) Doris Silvanus dan tidak.



Sebab, santer terdengar di publik, isu pelayanan yang buruk, dokternya kurang profesional, dan tak lengkapnya peralatan medis. Merasa tak punya pilihan lain serta takut hal tak diinginkan terjadi, akhirnya ibu tua yang sedang meradang itupun di bawa ke RSUD Doris Silvanus.



Kala itu, kelender masehi menunjukkan Kamis, 21 April 2011. Sesampainya di UGD rumah sakit milik pemerintah daerah Kalteng itu, nenek dari delapan cucu ini pun diperiksa Dokter Penyakit Dalam, Suyato.



Sang dokter pun melihat, memegang dan menanyakan gejala, serta hal yang dirasakan pasien ke keluarganya. Setelah itu, “Sudah diinapkan saja dulu, biar dirawat di rumah sakit ini,” kata Dokter Suyanto.



Suatu pernyataan yang cukup mengejutkan bagi keluarga. Hanya diperiksa manual, dan tanpa mendiagnosa penyakit di laboratorium. Bahkan, tak ada sepatah katapun terucap tentang penyakit yang di derita si ibu tua tersebut.



Kemudian, pasien pun menginap di ruang faviliun 1 nomor 12 RSUD Doris Silvanus. selama dua hari di kamar itu, si ibu tua itu hanya dirawat biasa saja. Padahal sang pasien sudah meradang dan mempertaruhkan kehidupannya. Namun, karena dokter Suyanto harus berangkat dinas ke luar daerah, wanita kelahiran Balukon inipun, diserahkan ke dokter Faisal.



Sang dokter pengganti pun melakukan diagnosa. Ditemukanlah penyakit yang di derita si pasien, yakni usus buntu. Penyakit sudah sangat parah dan harus segera di operasi. Kemudian si dokter menyampaikan dan memberi waktu kepada keluarga si pasien untuk berunding dan memberikan keputusan paling lambat hingga pukul 12.00 wib siang. Padahal, saat mendiagnosa itu sudah pukul 10.00 pagi.



Keluarga besar si pasien tidak langsung menyatakan siap melakukan operasi, melainkan berembuk. Pada saat berembuk, isu tidak sedap tentang RSUD Doris Silvanus, jadi perbincangan menarik bagi anak perempuan dan laki-laki si ibu tua ini.



Namun, sang ayah masih mempercayakan orang-orang di RSUD Doris Silvanus, dapat melakukan pekerjaannya dengan baik. Apalagi hanya operasi kecil seperti usus buntu. Selain itu pula, sang suami tak menginginkan hal yang paling ditakutkan terjadi kepada istri tercinta dan ibu dari anak-anaknya. Akhirnya penegasan wajib segera dilakukan operasi terucap. Hasil rembuk yang otoriter, tapi jelas dan tegas.



Karena sudah setuju dilaksanakan operasi, keluarga dari ibu tua itupun menyampaikan ke perawat yang sedang berjaga. Perawat cantik itupun menelepon dokter Faisal.



Lagi-lagi, pernyataan cukup mengejutkan terucap. “Kata Dokter, konfirmasi dari keluarga pasien terlambat. Karena waktu yang diberikan sudah habis, untuk memasukkan pasien ke jadwal operasi lusa. Jadi jikalau mau, keluarga pasien menambah biaya operasi, maka akan dilakukan operasi besok,” ungkap Suster itu kepada keluarga pasien, menirukan perkataan dokter Faisal.



Hahaha…suami dan anak-anak ibu tua itu, dihadapkan pada pilihan sulit, tapi apa mau dikata, kesehatan tak bisa di cari, tapi uang dan harta, bisa di cari. Ya sudahlah, keluarga ini siap menambah dana 50 persen di luar ketentuan biaya operasi yang sewajarnya. Akhirnya, operasi pun dilakukan pada 26 april 2011, sekitar pukul 12 atau 1 siang.



Langkah yang indah menuju sehat, sekaligus hal janggal dan sangat aneh terkuak. Dokter Darmo selaku dokter yang akan mengoperasi, di temani orang bagian bius pun memulai operasi. Perut bawah bagian kanan ibu tua itu di belah, kemudian dibelah lagi secara horizontal di bagian tengah perut. Untuk bagian tengah perut, memotong kembali bekas operasi caesar yang telah ada diperutnya sejak 33 tahun silam.



Entah ada angin apa, keluarga pasien pun di panggil masuk ke ruang operasi. Dengan sigap, putri kedua dan putra bungsunya pun masuk. Mereka melihat perut ibunya telah di belah di dua tempat berbeda, usus terburai di luar perut.



Uh….hati si anak serasa tersayat. Sang dokter pun berkata, “Ada kesalahan diagnosis, pasien tidak menderita penyakit usus buntu. Tetapi kami menemukan sejenis lemak yang bergerak dan dapat menempel kesana-kemari. Lemak itulah yang membuat ibu ini sakit. Apakah operasi bisa kita lanjutkan?,” tanya dokter Darmo kepada anak-anak ibu tua itu.



Melihat kondisi tubuh ibunya sudah dibelah seperti itu, siapa yang dapat berpikir jernih. Mau tak mau, keluarga si pasien menerima bahwa operasi harus dilanjutkan. “Lakukan yang terbaik dok, yang penting ibu saya kembali seperti semula,” ucap putri kedua ibu tua itu.



Hal mengenaskan yang harus dihadapi keluarga pasien. Kengerian secara psikologis dan kesabaran pun di uji. Syukurnya, operasi berjalan sukses. Beberapa hari setelah operasi, ibu tua inipun kembali menghirup udara segar. Melihat ibunya semakin sehat, anak-anaknya pun penasaran dan ingin mengetahui penyakit yang diderita ibunya.



Merasa ada yang aneh pada saat operasi, keluarga pasien pun mempertanyakan kesalahan diagnosa laboratorium, dan pembedahan dua kali di tempat yang berbeda tanpa izin keluarga terlebih dahulu.



Saat hal itu dipertanyakan, berbagai alasan disampaikan, bahwa semua prosedur operasi sudah benar dan legal. Saking ngototnya mencari informasi ada kesalahan pihak keluarga melapor kebagian pelayanan rumah sakit dan pihak rumah sakit pun mengajak keluarga pasien untuk musyawarah.



Pertemuan pun dilakukan, perdebatan demi perdebatan pun tak terelakkan terjadi antara pihak RSUD Doris Silvanus dan Keluarga pasien. Berbagai penjelasan dengan bahasa medis pun disampaikan kepada keluarga pasien.



Merasa tidak mengerti bahasa medis, keluarga pasien menerima semua alasan. Alhasil, perdebatan dimenangkan pihak rumah sakit. Namun, kompensasinya pasien dibebaskan biaya operasi, perawatan dan kamar. Sedangkan, biaya obat-obatan yang diluar generik harus dibayar oleh pihak pasien.



Sebenarnya, bukan pembebasan biaya yang keluarga pasien harapkan, namun kejelasan tentang dua bekas operasi yang harus ditanggung oleh pasienlah yang mereka pertanyakan, (apakah operasi tersebut benar-benar perlu?). Walaupun belum ada kepuasan di hati keluarga pasien, karena penjelasan itu belum menjawab berbagai kejanggalan.



Kesulitan dan kejanggalan, tak kunjung selesai, perawat yang bertugas di pelayanan RSUD Doris Silvanus, malah mempersulit keluarga pasien mendapatkan rekam medic atau hasil laboratorium dan rontgen. Alasan tidak bisa diberikan, karena hal tersebut adalah rahasia rumah sakit dan adanya larangan dari dokter Irly, selaku kepala Pelayanan RSUD Doris Silvanus.



Merasa rekam medic wajib diberikan kepada keluarga pasien, berbagai cara pun dilakukan. Mulai dari berdebat, hingga membayar di tempat pengambilan rekam medik. Setelah itu, rekam medic baru bisa didapat.



Selang dua minggu, kondisi ibu tua itupun membaik. Suami dan anak-anak tercinta pun membawanya pulang. Namun, beberapa hari di rumah, kondisi kesehatan ibu tua itu kembali memburuk.



Merasa ada yang tidak beres, dan tak ingin membawanya kembali ke RSUD Doris Silvanus. Keluarga korban pun kembali berembuk untuk membicarakan penyakit dan dibawa kemana agar kesehatannya kembali pulih.



Hasil rembuk keluarga ibu tua ini, dibawalah ke RSCM Internasional, Berbagai persiapan untuk membawa kesana. Sampai-sampai sebagian tanah di sekitar rumah ibu tua ini pun di jual untuk biayanya.



Berangkatlah suami istri tua, ditemani ke empat anaknya. Berbagai kemungkinan dijalani, muali cek laboratorium lengkap, kontrol ke dokter bagian penyakit dalam, kemudian gastro, dan ahli syaraf.



Di RSCM Internasional itu, pelayanannya cepat, baik dan hasilnya memuaskan. Di mana, pihak rumah sakit setempat melakukan CT scan, endoskopi, dan pemeriksaan lengkap lain yang tidak dimiliki RSUD Doris Silvanus.



Hal yang miris mengetahui keminiman alat dan pengetahuan, namun mereka tetap melakukan tindakan sehingga terjadilah dua operasi di atas. Belum lagi, diagnosis yang tidak jelas. Dari pengobatan yang dilakukan di Jakarta dilakukan dalam beberapa tahap.



Dimulai dari cek laboratorium lengkap, CT Scan, dan endoskopi dari bagian mulut. Sedangkan endoskopi dari dubur tidak dapat dilakukan, karena harus melewati daerah bekas operasi, yang dilakukan RSUD Doris Silvanus.



Setelah selesai tahap itu, RSCM Internasional pertengahan Juli, akan melakukan syaraf dan endoskopi lanjutan. Sebab, bekas operasi kemungkinan telah kering dan tidak berbahaya jika dilakukan endoskopi.



Berdasarkan hasil pemeriksaan tahap pertama RSCM Internasional, ditemukan adanya bercak-bercak seperti sariawan, tepat dilambung ibu tua itu. Infeksi inilah yang mengakibatkan terjadinya rasa panas dibagian belakang, mual-mual dan perut serasa di iris silet.



Sehingga, penyakit yang ditemukan sangat bertentangan dengan yang disampaikan RSUD Doris Silvanus. Sampai-sampai ada pernyataan menyejutkan keluar dari dokter RSCM Internasional mengenai pembelahan di dua tempat yang berbeda dan harus dilakukanya operasi.



"Sabar ya ibu, bapak. Semua kita serahkan kepada Tuhan, biarlah itu urusan Dr yang bersangkutan dengan Tuhan,” ungkap anak perempuan ibu tua ini, menirukan ucapan dokter RSCM Internasional.



Bahkan, berdasarkan keterangan putri ketiga dari ibu tua itu, pasca operasi di RSUD doris silvanus, keluarga ini melewati masa-masa sulit. Ibu tua itu lebih sering duduk diam dan murung. Keceriaan yang selama ini menghiasi wajah ibundanya seakan hilang diganti tangisan, jika kejadian yang dialaminya.



Ibu tua itu merasa berpikir, operasi yang dilakukan sangat tidak penting. Sebab, kesehatannya bukannya membaik, malahan harus menanggung dua bekas operasi di masa tuanya.



Namun sebagai anak, semua anak sang ibu memberikan dukungan moral dengan berusaha membangkitkan semangat sang ibu untuk bersyukur bahwa semua telah terlewati dengan penanganan yang memuaskan dari pengobatan yang dilakukan di Jakarta.



“Saya menceritakan permasalahan ini, bukan karena menginginkan apa-apa, apalagi yang namanya uang. Tidak sama sekali, tapi saya ingin ini tidak terjadi kepada orang lain. Untung saja, tidak terjadi apa-apa kepada ibu saya, dan sekarang sudah sehat,” ucap anak perempuan korban ini, kepada Radar Sampit, baru-baru ini.



Saat dikonfirmasi, Pihak RSUD Doris Silvanus tak membantah, dan tidak juga mengakui. Pihak rumah sakit menegaskan bahwa permasalahan itu telah lama terjadi dan sudah diselesaikan secara musyawarah dengan keluarga pasien.



“Masalah ini sudah selesai, dan kita sekarang ini sedang berupaya berbenah dan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Mengenai permasalahan itu, hanya ada kesalahan informasi, dan kita sudah berbicara baik-baik dengan keluarga pasien,” kata Direktur RSUD Doris Silvanus, Supriadi Budi, Kamis (30/6), di ruang kerjanya.



Supriadi menjelaskan, pada proses operasi itu, dokter yang melakukan operasi sudah benar dan legal berdasarkan standar medis. Seluruh anggota keluarga ibu tua itu, juga sudah disampaikan alasannya secara detail.



Mengenai hasil redical medic, itu sepenuhnya wewenang pihak rumah sakit, dan pasien itu sendiri. Sehingga, yang bisa memintanya adalah, pasien itu sendiri, sedangkan keluarga pasien tidak bisa. Bahkan, Pasien pun meminta rekam medic harus jelas alasannya dan untuk apa, tidak asal-asal. Karena itu diatur dalam Undang-undang.



“Kalau keluarga pasien hanya diberi resum medic, dan isinya sebenarnya hampir sama dengan redical medic. Keluarga ibu tua itu kita berikan kok resume medic itu,” ungkap Direktur RSUD Doris Silvanus, didampingi dr Mulyadi selaku Ketua Komite Medic, dr Yayu Indriani, dan dr Irly.



Direktur RSUD Doris Silvanus ini memastikan, tidak ada seorang dokter pun di dunia ini yang mau hal negative terjadi kepada pasiennya. Selalu berupaya memberikan yang terbaik agar setiap orang yang diperiksanya bisa kembali sehat. Hanya, masyarakat awam menganggap dokter itu dewa yang tidak pernah salah.



Selain itu, terkadang komunikasi yang disampaikan dokter kepada pasien maupun keluarga pasian, tak langsung dan benar-benar dipahami. Sehingga, perbedaan persepsi sering terjadi,” tutur Supriadi.



Ketua Komite Medic, dr Mulyadi, menambahkan permasalahan itu sudah disikapi RSUD Doris Silvanus, dengan melakukan audit medic. Dari hasil audit medic itu, dr Darmo secara profesi dan kedokteran sudah benar, serta sesuai prosedur kesehatan.



Disamping itu, seluruh dokter-dokter yang terlibat di permasalahan pasien ini sudah ditegur, dan diarahkan, agar terus menurus mengintrospeksi diri dan meningkatkan kemampuannya. Semua itu demi kepuasan masyarkat.



“Secara psikologis permasalahan ini mengganggu dokter yang melakukan operasi. Sehingga, secara pribadi saya meminta maaf kepada seluruh keluarga pasien,” tambah dr Yayu Indriani, dokter gigi ini. ***
Teruskan Sob...

Kamis, 02 Juni 2011

Lebih Baik Jadi PKI Tapi Tahu Diri, Daripada Pancasilais Tapi Berbuat Najis





Oleh: Hengky Dwi Cahyo



******* Maaf sebelumnya kalau ada yang tidak suka dan tidak sefaham dengan pendapat penulis, toh berbeda pendapat kan wajar dan boleh. *******.



Beberapa hari belakangan ini, sepertinya orang sedang ramai membahas Pancasila yang dikatakan sakti, bertuah dan memiliki nilai ideologi tinggi. Padahal kalau mau flashback ke belakang dan mau memahami asal-usul, mempelajari perjalanan sejarah pancasila, pasti akan memahami bahwa pancasila muncul sebagai the winning solution untuk mengatasi konflik SARA di Indonesia pasca kemerdekaan.



Penulis juga mengamini jika itu salah satu kisah manis perjalanan Pancasila. Tetapi perjalanan pancasila juga pernah membawa sebuah tragedi kemanusiaan yang panjang dan mengerikan, yakni pasca pembrontakan G30S PKI serta tragedi kemanusiaan ini hanya terjadi di Indonesia.



Karena memang tidak pernah tercatat dalam sejarah, ada suatu bangsa yang rela dengan kesadaran penuh membuat undang - undang peruntukannya membunuh karakter dan masa depan generasi penerusnya sendiri.



Hal itu dilakukan hanya karena, sebuah Ideologi dan faham yang diyakini orang tua atau nenek moyang yang akhirnya menjadi dosa dan noda turun-temurun. Yang akan selalu dibawa dari generasi ke generasi, bahkan saat bayi dalam kandungan pun telah membawa dosa dan noda orang tuanya kelak saat lahir hingga dewasa.
“Alhamdulillah secercah harapan muncul, dikala Presiden di Jabat Gus Dur, kemudia mencabut undang - undang tergila dan paling jahat sedunia tersebut”.



Ini sekelumit kisah nyata yang pernah dialami oleh penulis sebagai generasi yang pernah di cap merah sebagai keturunan PKI.



“yang masih segar dalam ingatan penulis saat Bapak ingin menjadi seorang guru (PNS), karena secara status Bapak tidak terlibat cap merah sebagai PKI. Nenek moyang beliau orang PNI tetapi nenek moyang Ibu yang terlibat dan pada saat itu benar-benar penulis dengar dengan telinga sendiri kalau Bapak bisa menjadi guru asal menceraikan ibu”



Seketika itu terbersit dalam fikiran penulis apa salah Ibu sampai harus seperti itu ternyata karena dosa sebagai keturunan PKI mulai saat itu pula penulis memahami ternyata mempertahankan ideologi bisa juga memakai cara yang edan dan dilegalkan melanggar norma-norma kehidupan padahal semua tahu kalau perceraian emang halal tapi dibenci Tuhan.



Bahkan ada cerita yang lebih memilukan karena hanya karena sebuah ideologi, ini memang buka keluarga yang mengalami tetapi tetangga.



“Beliau dihukum 6 bulan karena hanya bekerja sebagai supir bandara di salah satu maskapai penerbangan milik Negara (BUMN) padahal saat itu sudah ada tanda kalau menjadi keturunan PKI karena memang tandanya di KTP. Beliau dituduh memalsukan KTP karena sebagai keturunan PKI tapi bisa bekerja di maskapai penerbangan milik pemerintah padahal teman beliau yang berbarengan melamar sudah membela tetapi hukum tetap menyalahkan tetangga penulis tanpa pengadilan yang jelas dan tidak diberi kesempatan membela diri hanya karena keturunan PKI”.



Terlalu banyak nyawa, air mata, darah dan penderitaan rakyat Indonesia yang harus dikorbankan hanya untuk penasbihan kesaktian pancasila yang sejatinya hanya simbol Negara. Berisi lima sila kesepakatan yang digunakan sebagai dasar Negara yang telah disepakati oleh seluruh rakyat Indonesia bahkan ada yang sangat mengelikan setelah sekian banyak pengorbanan yang dilalui untuk menasbihkan kesaktian pancasila tetapi tidak pernah ada yang benar-benar orang Indonesia yang pancasilais.



Apalagi orde baru yang selalu campaign pancasila sakti ternyata diisi oleh orang-orang lebih bejat dan busuk jauh lebih bejat dari pada orang yang dianggap PKI bahkan dengan kesadaran penuh telah membuat budaya super edan yaitu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).



Jika mau jeli dan teliti dengan tiadanya orang keturunan PKI di dalam tubuh pemerintahan bisa dinilaikan lebih baik mana orang yang merasa pancasilais dari pada orang yang dicap sampah zaman yaitu generasi eks PKI dan tidak salahkan judul yang dibuat oleh penulis “Lebih Baik Jadi PKI Tapi Tahu Diri Dari Pada Pancasilais Tapi Berbuat Najis”.



Sebenarnya kalau mau menjadi masyarakat yang baik dan beradab tidak ada pancasila pun bisa selama ada niat dan keinginan untuk hidup dengan baik apalagi pemerintah bisa membimbing masyarakat untuk hidup lebih baik dan beradab. Selama contoh-contoh dari pemerintah masih seperti saat ini jangan harapkan memiliki generasi yang baik.



Tidak perlu mensakralkan pancasila karena pancasila hanya simbol dan sekedar buat referensi penambah semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mau kembali ke pancasila ataupun pancasila yang berlambang burung garuda mau di bangkitkan sampai bisa terbang, hal itu tidak akan ada yang special apalagi mengejutkan, karena masyarakat tidak butuh pancasila tapi butuh keadilan dan kesejahteraan.



“Toh kenyataannya pancasila juga tidak akan bisa memberi rizki dan mensejahterakan rakyat apalagi bisa menghilangkan budaya korupsi dan suap di negara ini”.









Sumber : http://sosbud.kompasiana.com/2011/06/01/lebih-baik-jadi-pki-tapi-tahu-diri-daripada-pancasilais-tapi-berbuat-najis/#
Teruskan Sob...

Selasa, 31 Mei 2011

Wawali Akan Dipanggil Dewan





Terkait Pembangunan Sarang Walet Tanpa Izin



PALANGKA RAYA, penyaksi.com¬_



DPRD Palangka Raya dalam waktu dekat akan segera memanggil Wakil Wali Kota Palangka Raya Maryono. Pemanggilan ini bertujuan untuk mempertanyakan alasan pembangunan sarang burung walet miliknya. Sementara pembangunanya dilarang untuk sementara waktu.



Ketua Fraksi PDI Perjuangan, Nenie Adriati Lambung, Senin (30/5), mengatakan, surat edaran yang dikeluarkan Walikota Palangka Raya, Riban Satia, dengan tegas melarang pembangunan sarang burung walet hingga peraturan daerah (perda) selesai. Wakil Walikota, malah ikut-ikutan membangun.



Seharusnya sebagai pejabat publik Wawali bisa memberikan contoh yang baik untuk masyarakat. Sehingga, Walikota yang berencana menertibkan bangunan walet bisa segera bertindak tanpa pandang bulu.



“Kami akan memanggil yang bersangkutan untuk mempertanyakannya. Dan apakah benar sarang walet milik nya (wawali, rek) ramah lingkunga, bersih, sehat dan menguntungkan masyarakat sekitar” tuturnya.



Ketua Komisi II DPRD Palangka Raya Hatir Sata Tarigan, menambahkan, bingung dengan sikap Wawali yang membangun. Padahal DPRD saat ini berusaha semaksimal mungkin untuk membuat peraturan daerah mengenai izin bangunan sarang walet.



Maka dari itu, akan meminta Ketua DPRD Palangka Raya untuk memanggil Wakil Wali Kota agar berkoordinasi mengenai masalah tersebut. Dengan tujuan, jangan sampai pembangunan sarang burung walet semakin marak sebelum ada aturan hukumnya yang nanti bisa merusak susunan tata ruang kota setempat



"Kami khawatir, pernyataan Wakil Wali Kota di beberapa medial lokal yang menyatakan pembangunan sarang walet tidak masalah, akan memancing terus perkembangannya. Sedangkan Walikota melarang hal tersebut," ucap Hatir.



Yansen Binti, Anggota DPRD lainnya juga angkat bicara dan menyayangkan pernyataan Wawali terkait tidak ada pihak manapun yang dapat melarang orang untuk membangun sarang walet. Seharusnya sebagai pejabat publik mentaati hukum bukan malah melanggarnya sendiri



"Masalah ini akan kami tanggapi serius, untuk itu Walikota dan instansi terkait harus bisa menindak tegas siapa saja yang melanggar aturan di Palangka Raya. Tanpa pandang bulu," tegas Yansen.
Teruskan Sob...